Starvation

Picture source: www.fotografer.net
Where-ever law ends, tyranny begins
-John Locke –
Santap Siang
Makan siang bersama, setidaknya bagi kami berdelapan, selama 52 hari memang lah yang biasa. Namun, ketika 52 hari itu sudah tutup buku dan kami kembali dengan pergulatan aktivitas kuliah dan kampus masing-masing, menghabiskan waktu bersama menjadi hal yang cukup istimewa. Canda dan tawa. Nostalgia.
Mie Gomak, makanan khas Sumatra Utara yang dulu diperkenalkan oleh Kopek. Bentuknya seperti Spagetti, tentunya beda versi. Mie Gomak, Spagetti ala Indonesia. Rasa Mie Gomak biasanya pedas karena ada campuran buah andaliman dalam bumbu.
Sabtu (17/9) siang yang hangat. Tidak hanya karena Mie Gomak yang pedas. Tapi juga ketika kami sampai pada perbincangan tentang masa-masa yang baru beberapa waktu berlalu. Seketika fragmen yang berserak itu menemukan kembali tempatnya.
Rindu.
Begini Cara Saya Mengingat Oktober
Oktober memang sudah lewat. Tetapi daftar lagu yang sama, masih terputar hingga November datang. Berikut ini beberapa artis/band yang mendendangkan lagu indah dan berhasil membuat saya ketagihan memutarnya berulang-ulang hingga hari ini.. Mereka menemani saya membaca koran, mengerjakan tugas, merangkum buku, menulis jurnal harian,mem-browsing internet, menelepon orangtua, meng-sms kawan, meng-imel sahabat, memasak mie, bahkan hingga saya tidur.

A Fine Frenzy. Nama sang biduanita: Alison Sudol. Lagunya sangat keren (menurut saya tentu saja). Kebanyakan memang lagu-lagu (SANGAT) sendu yang dibawakannya, misalkan Almost Lover, Swan Song, dan The Beacon. Saya sudah pernah membahas tentang A Fine Frenzy di bulan Januari 2010 dalam tulisan yang berjudul “Almost Lover”.
OST Juno. Semua lagu dalam film Juno, bagus semua!! Lirik lagu-lagunya bertutur sederhana dan sebagai pendengar, kita akan langsung mengerti maksudnya. Analogi yang digunakan dalam soundtrack juga tidak rumit. semuanya serba sederhana dan langsung pada poinnya. Coba dengarkan I’m Sticking With You oleh The Velvet Underground, All I want is You oleh Barry Louis Polisar, Anyone Else But You oleh The Moldy Peaches. Lagu yang manis.
OST Julie & Julia. Ada 2 lagu yang saya punya dari soundtrack film Julie and Julia yaitu a Bushel and a Peck oleh Dorris Day dan Stop The Train oleh Henry Wolfe. Lagu yang dinyanyikan Henry cocok untuk suasana yang ‘galau’. haha Lire la suite »
Love The Kids
Mereka semua.. Lintang, Ika, Ivan, Tami, Brihantoro, Bayu, dan semuanya yang tidak bisa disebutkan satu per satu..
Bersama wajah-wajah ini lah saya sering menghabiskan senja. Mereka anak-anak yang sangat manja dan menyenangkan. Saya pernah mengatakan bahwa anak kecil itu menyebalkan. Kali ini saya koreksi. Saya kekanak-kanakkan dan yang sebenarnya menyebalkan bukan lah anak-anak, tetapi saya.
Setiap sore, mereka berceloteh, bertengkar, tertawa, mengatur siasat, bermain, berlarian atau terkadang hanya duduk di atas rerumputan dan melihat matahari terbenam. Mereka terkadang bisa menjadi anak-anak yang sendu dan romantis.
Belajar di Luar, Lupakan Seragam (Part I)
Saya tidak akan mendebat soal matakuliah 3 sks yang harus saya laksanakan di luar ruang akademis di lingkungan kampus (seperti biasanya). Perkara transparansi uang hingga nilai, mungkin akan dibahas di ruang lainnya yang lebih layak. Konsekuensi logis mengambil matakuliah wajib ini adalah belajar di luar. Berbekal hanya ilmu serta skill lain di luar ranah keilmuan kaku di ruang kelas.
Belajar di luar artinya, belajar dengan masyarakat. Demikian saya menyebut nama matakuliah ini. Saya tidak suka dengan nama yang diberikan kampus untuk matakuliah yang (sebenarnya) mengemban tugas mulia. Di kesempatan itu, saya akhirnya bersentuhan langsung dengan masyarakat yang sebenarnya. Masyarakat yang sederhana. Siklus hidup harian yang singkat. Hangat. Tidak kaku. Kental dengan nuansa kekeluargaan. Lire la suite »
Tengah Malam Menunggu Pagi
Jarum jam menunjukkan pukul 23:41. Dendang lagu-lagu Adhitia Sofyan siap mengantar tidur. Lamunan terbuyarkan. Mata enggan terpejam. Penanggalan dengan coretan aksara menggunakan berwarna-warni tinta menghantui tidur yang ternyata hanya sekadar wacana. Ponsel digenggam dengan kesadaran penuh. Saya bicara dan melontarkan banyak pertanyaan. Sesorang di ujung telepon mencoba untuk menentramkan. Saya menyimpulkan, ia tidak begitu tertarik bicara tentang hal yang lebih serius. Menurutnya, saya hanya akan tertarik bicara Chekov dan resep-resep kue. Lire la suite »
Percakapan Sore di Akhir September
Di suatu Jum’at (30/9) sore yang panas, saya bertiga dengan Cula dan Hilman, berkunjung ke Lir, sebuah kafe kecil yang hangat di bilangan Baciro. Kebetulan seorang kawan ada yang bekerja di kafe itu, Tante (@intanrezas). Percakapan dimulai dengan seteko dingin Ginger ale dan sepiring jamur goreng. Pembicaraan tentang pameran dan workshop Zine yang saat itu sedang berlangsung dan pameran dan workshop lainnya yang akan datang.
Setelah sekian lama, hampir 2 bulan lebih, akhirnya bisa reunite dengan sekawanan sisa-sisa perjuangan ex-kelompok lombok. Tante dan Cula, sebenarnya mereka lebih dari sekadar sisa perjuangan. Sore itu kami mengingat-ingat kejadian dulu dan menceritakan tentang pengalaman 52-hari-yang-rumit-di-awal. Termasuk tentang segala ide bodoh serta jatuh-bangunnya.
Kesimpulan saya di akhir perbincangan kami, bukanlah lagi tentang menyesal atau tidaknya saya soal KKN. Kali ini tidak lagi tentang itu. Hidup ternyata harus maju terus. Tante dan Cula sudah maju. Ternyata saya yang sesekali masih suka menengok ke belakang. Apa yang saya pikirkan dan takutkan sebenarnya? Entah. Saya berusaha menegakkan kepala dan membusungkan dada kembali. I gotta run back to my track, I have life to catch.
Di Balik Layar
KKN. Kuliah Kerja Nyata. Sebuah matakuliah berbobot 3 sks yang wajib diambil sebagai syarat kelulusan di UGM. Sebelum bertemu dengan kelompok ‘Laskar Kurau’, sebuah kelompok KKN Kurau, Bangka namun gagal berangkat, saya sudah mondar-mandir bersama seorang rekan konsen, partner organisasi, sekaligus sahabat tergaul masa kini, Cula (Ursula Natali Langouran). Istilah mondar-mandir itu bukan hanya sekedar mondar-mandir mengurus hal-hal yang sifatnya administrasi KKN, seperti pendaftaran, pembayaran, cek kesehatan, melainkan jauh sebelum itu. Mencari kelompok KKN yang pas di hati. Lire la suite »
Mulai dari Nol Lagi
Saya tidak lagi menulis untuk blog ini. Jemari menjadi begitu kaku untuk menekan tuts di keyboard dan merangkai kata. Buntu. Alhasil hampir enam bulan, blog ini tak terurus. Padahal, dulu saya membuat blog ini dengan tujuan untuk dijadikan trigger untuk menulis hal lainnya yang lebih serius. Pada akhirnya, saya pun gagal menulis banyak hal serius. Artinya, selama waktu itu pula saya tidak menghasilkan tulisan apa pun.
Well, jurnal harian saya juga bolong-bolong. Tidak penuh sebagaimana dulu saya rajin menulis. Mungkin tulisan ini dapat menjadi obat penawar dari penyakit kebuntuan yang selama ini saya derita. Saya yakin, menulis memang tidak sulit.. asal ada kemauan kan?
Nantikan tulisan saya selanjutnya.
Smile
Smile though your heart is aching
Smile even though it’s breaking
When there are clouds in the sky, you’ll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun come shining through for you
Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That’s the time you must keep on trying
Smile, what’s the use of crying?
You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile
- Nat King Cole-
Cry Me a River
..sometimes you have to make a mistake to figure out how to make things right..
Akhirnya rangkaian acara Dies Natalis FH UGM usai. Kesibukan penulisan buku sejarah telah rampung lama. Keribetan hal-hal yang bersifat administrasi di kantor kesekretariatan (KSK) sudah tidak lagi dirasakan. Tidak ada lagi surat yang harus dilipat dan segera dikirimkan. Tidak ada lagi ‘Employee of The Day‘. Tidak ada lagi keharusan untuk membuat laporan harian. Tidak ada lagi penjualan tiket. Tidak ada keriuhan OI (Orang Indonesia) di kampus FH hanya untuk rebutan tiket konser Iwan Fals. Semua sudah selesai (semoga). Lire la suite »
Apatis
Beberapa saat ini saya merasa sangat sibuk. Entah.. saya lupa, tak sempat mencatat apa hal yang saya kerjakan selama ini. Jurnal harian saya kosong. Catatan itu berhenti di tanggal 15 Januari 2011. Setelah tanggal itu, halaman di dalamnya bersih tanpa satu tulisan. Tanpa catatan yang selama ini berhasil menjadi reminder hidup itu, tentu saya menjadi tidak tahu sudah sampai dimana.. mungkinkah dengan kegiatan yang saya maknai sebagai ‘kesibukan’ itu, sebenarnya saya hanya jalan di tempat?
Setiap hari layar televisi saya biarkan menyala.. dengan acara yang melulu berisi berita. Tapi kali ini tanpa suara. Sebab saya tertidur. Pulas. Seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi dan diberitakan di layar kaca.
Koran pun masih terus diantar sampai ke depan kamar. Namun sering kali, hanya tergeletak di atas rak sepatu hingga dini hari saat pulang berkegiatan di luar kosan. Tidak tersentuh. Tidak terbaca.
Pemberitaan media juga terus berganti. Berita politik dan hukum timbul tenggelam. Masalah penting tertutup dengan berbagai berita soal polemik agama dan keyakinan, dengan bumbu-bumbu pertikaian dan anarkisme.
Sayangnya, saya masih dengan rutinitas yang sama.. seperti sebuah robot. Bergerak hanya didasarkan pada instruksi. Saya lupa mencerna.. lupa berkomentar. Saya nyaris kaku untuk mulai menulis kembali.
Mungkin ini suatu tanda.. bahwa saya harus berhenti meributkan hal yang itu-itu saja. Mungkin ini saatnya untuk kembali mengambil pena dan secarik kertas.. dan menulis.
Selamat Hari Pers Nasional!
Awesome Day
Kemarin (24/01), saya bersama ketujuh orang kawan secara tiba-tiba berkesempatan untuk jalan-jalan dan melihat fenomena (yang katanya) bekas UFO di daerah Berbah, Sleman.
Sejujurnya saya tidak peduli dengan benar-tidaknya circle crop di tengah sawah itu adalah saksi bekas mendaratnya UFO (Unidentified Flying Object) atau hanya kabar burung saja. Saya turut serta sampai ke desa itu hanya untuk refreshing. Maklum, nyaris waktu saya 6 hari dalam seminggu habis di kampus dan bergelut dengan rutinitas yang itu-itu saja, bertemu dengan manusia yang itu-itu lagi..
Usai makan siang di sebuah warung makan di Jalan Affandi, kami berdelapan meluncur ke tempat arena UFO-UFO-an itu. Ternyata letaknya lumayan jauh, ditambah lagi waktu yang sudah sore dan cuaca yang kurang bersahabat. Sesekali hujan rintik turun selama perjalanan ke sana. Ada hal menyenangkan yang sesaat membuat saya begitu lupa dengan segala hiruk pikuk dan hecticnya tugas Lire la suite »



