the clock is ticking

Life ends when you stop sharing..

Di Balik Layar

laisser un commentaire »

       KKN. Kuliah Kerja Nyata. Sebuah matakuliah berbobot 3 sks yang wajib diambil sebagai syarat kelulusan di UGM. Sebelum bertemu dengan kelompok ‘Laskar Kurau’, sebuah kelompok KKN Kurau, Bangka namun gagal berangkat, saya sudah mondar-mandir bersama seorang rekan konsen, partner organisasi, sekaligus sahabat tergaul masa kini, Cula (Ursula Natali Langouran). Istilah mondar-mandir itu bukan hanya sekedar mondar-mandir mengurus hal-hal yang sifatnya administrasi KKN, seperti pendaftaran, pembayaran, cek kesehatan, melainkan jauh sebelum itu. Mencari kelompok KKN yang pas di hati.

Dari Cangkringan ke Lombok

     Bulan Februari awal, ketika hampir 1×24 jam sehari dihabiskan untuk mahkamah, lustrum, kampus, kami belum terpikir untuk membentuk kelompok. Atau setidaknya dapat kelompok yang sudah punya konsep. Berlagak santai, saya sempat merasa panik sendiri melihat teman-teman di kampus sudah punya Plan A, Plan B, Plan C, dst tentang KKN-nya. Entah apa Cula juga sok santai seperti saya. Haha.

          Dari lihat-lihat di Facebook seorang kawan, ada kelompok Cangkringan yang sedang mencari orang. Saya dan Cula ikut dengan kelompok itu. Sekali, dua kali, tiga kali rapat, kami datang. Artinya, kami benar-benar niat untuk ikut kelompok ini.Tetapi, karena tiap datang rapat, kami merasa suara kami tidak didengar. Maka kami memutuskan untuk mencari kelompok baru.

       Pada suatu siang, saya sedang bersih-bersih sekre Mahkamah, Cula datang dengan sebuah tawaran untuk ke Lombok. Ya, Lombok. Saya bahkan tidak bisa membayangkan tempat itu akan seperti apa. Banyak orang bilang, Lombok itu indah dan penuh dengan cahaya matahari (baca: panas). Dan yang jelas, Lombok itu jauh dari Jogja serta rumah.

        Saya mengiyakan dengan bayangan bahwa masa KKN akan saya jadikan sebagai masa liburan juga. Dan kata “iya” pun berlanjut menjadi puluhan jam rapat ini dan itu. Dan saya kembali bertemu dengan wajah-wajah baru. Jokes baru. Celotehan baru. Ide baru. Konsep baru. Dan tentu saja, kawan baru. Bertukar ide. Berbagi informasi. Sampai akhirnya kami terbentur dana. Tersudut. Limbung. Lalu beberapa diantara kelompok itu memilih mundur. Kelompok ini bubar.

     Sisa-sisa perjuangan dari kelompok Lombok: saya, Cula, Tante (Intan Reza) dan Cahya. Kami bergantian saling memeriksa plotting tempat KKN setelah batal ke Lombok. Hujan, panas, mendung, gerimis, kuliah, kerja, tugas. Semua kondisi itu tidak menghalangi kami untuk tetap pergi ke gedung rektorat dan melangkahkan kaki ke lantai 3, ke ruang LPPM. Tidak hanya sekali atau dua, kami keluar dari ruangan itu dengan muka tertekuk dan senyum kecut. Hampir sebulan lebih kami berempat (dan mungkin kawan-kawan ex kelompok Lombok lainnya) masih belum jelas dapat plotting tempat KKN dimana.

        Sampai akhirnya kami mendapat undangan untuk hadir rapat plotting di ruang sidang LPPM. Sore. Ruangan itu dingin. Pun demikian dengan orang-orang di dalamnya. Saya, cula dan Cahya menyempatkan diri untuk hadir. Hasilnya: Kecamatan Patuk dan Kecamatan Playen. Itu tempat KKN kami. Tidak jauh dari kampus. Masih di Jogja juga. Kedua desa itu terletak di Gunung Kidul, Yogyakarta.

         Titik terangnya: dengan KKN di Jogja, kami masih bisa sesekali menjenguk kampus dan kota Jogja.

Beji dan Playen

        Setelah mendapatkan dua nama kecamatan, saya sudah lumayan lega. Perihal saya, Tante, Cula dan Cahya akan tetap satu unit lagi atau tidak, masih belum jelas. Setidaknya, dengan mengantongi dua nama itu sebagai tempat KKN, usaha mepet LPPM untuk mendapatkan kepastian plotting  selama ini tidak sia-sia.

       Sampai akhirnya pada suatu sabtu siang di akhir bulan Juni. Hanya ada saya, tante dan Cahya. kami diundang rapat koordinasi. Ternyata kami berbeda unit. Tante, Cula, Cahya masuk ke unit Playen dan Saya sendiri masuk ke unit Beji, Patuk. Beda cakupan wilayah kerja. Saya sempat kecewa sebenarnya. Tapi, kemudian saya belajar menerima hasil keputusan ini dan beradaptasi lagi dengan kepala-kepala baru. Mencoba menemukan “klik”-nya dengan 23 orang di kelompok itu.

         Beji dan Playen. Dan pada akhirnya saya dan ketiga kawan lainnya punya cerita berbeda selama 52 hari KKN di kedua tempat tersebut.

 

Rédigé par Lia Padma

septembre 30, 2011 à 12:33  

Publié dans Uncategorized

Répondre

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Twitter picture

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

Suivre

Get every new post delivered to your Inbox.