Percakapan Sore di Akhir September
Di suatu Jum’at (30/9) sore yang panas, saya bertiga dengan Cula dan Hilman, berkunjung ke Lir, sebuah kafe kecil yang hangat di bilangan Baciro. Kebetulan seorang kawan ada yang bekerja di kafe itu, Tante (@intanrezas). Percakapan dimulai dengan seteko dingin Ginger ale dan sepiring jamur goreng. Pembicaraan tentang pameran dan workshop Zine yang saat itu sedang berlangsung dan pameran dan workshop lainnya yang akan datang.
Setelah sekian lama, hampir 2 bulan lebih, akhirnya bisa reunite dengan sekawanan sisa-sisa perjuangan ex-kelompok lombok. Tante dan Cula, sebenarnya mereka lebih dari sekadar sisa perjuangan. Sore itu kami mengingat-ingat kejadian dulu dan menceritakan tentang pengalaman 52-hari-yang-rumit-di-awal. Termasuk tentang segala ide bodoh serta jatuh-bangunnya.
Kesimpulan saya di akhir perbincangan kami, bukanlah lagi tentang menyesal atau tidaknya saya soal KKN. Kali ini tidak lagi tentang itu. Hidup ternyata harus maju terus. Tante dan Cula sudah maju. Ternyata saya yang sesekali masih suka menengok ke belakang. Apa yang saya pikirkan dan takutkan sebenarnya? Entah. Saya berusaha menegakkan kepala dan membusungkan dada kembali. I gotta run back to my track, I have life to catch.

love this
Ursula Natali Langouran
novembre 6, 2011 à 11:28