Jebul Mbeji*
Dua puluh empat orang. Termasuk saya. Dengan sedikit menggerutu di awal, akhirnya harus melewati jalanan berbatu. Di Desa Beji. Lima puluh dua hari. Selama itu kami akan selalu melewati jalanan yang sama. Menggilas batu kerikil nakal yang ogah digilas ban apa pun. Mereka akan mental ke segala arah. Sesuka mereka. Sesekali batu-batu ini berhasil membuat kami, para pengendara sepeda motor yang terbiasa berjalan di Kota, jatuh mencium bumi. Merasakan sulitnya untuk bisa bangun kembali.
Kerjan Squad
Kerjan adalah dusun tempat pondokan sub unit satu berada. Anak-anaknya solid. Walaupun sering diwarnai pertengkaran dari diem-dieman sampai adu mulut. Tapi hal yang paling menyenangkan dari Kerjan Squad adalah mereka termasuk orang yang paling niat dan paling sering main ke Dusun Beji, tempat pondokan sub unit saya. Selain itu, kalau untuk urusan diajak susah dan diminta bantu-bantu, mereka hadir paling depan. Dan love story sempat mewarnai Kerjan Squad. Di Kerjan juga lah proses kreatif berlangsung. Berkat kemahiran ngutak-atik kamera poket dan software, Zein berhasil mendorong teman-teman di Kerjan untuk memproduksi sebuah film. Film itu diputar pada perpisahan dusun, bersama masyarakat Kerjan. Komposisi sub unit ini cukup seimbang. Separuh sainstek, separuhnya lagi soshum. Ada yang males, ada yang kerajinan, ada yang kerjaannya di depan laptop terus, ada yang rajin banget membaca kitab suci (maklum lagi bulan puasa), ada yang jarang mandi (mungkin karena faktor tidak memadainya air bersih), ada yang hobi mandi di Balai Desa dan buang hajat di Masjid seberang pondokan, ada yang hobinya masak, dan lain sebagainya. Lengkap.
De Beji’s
Dusun Beji. Sub unit saya. Sub Unit dua. Dengan koordinator sub unit, seorang laki-laki jangkung berjenggot yang ahli soal agro. Diantara pondokan sub unit lainnya, pondokan di dusun Beji termasuk yang paling mewah. Yang dimaksud mewah ini adalah di pondokan kami untuk urusan mandi dan cuci, tidak perlu menimba air secara manual. Di pondokan kami sudah menggunakan pompa air. Tidak heran, kawan-kawan dari sub unit lainnya sering transit ke Beji untuk sekadar menumpang mandi atau buang hajat. Maklum, kondisi Gunung Kidul sedang sulit air. Sumur warga banyak yang kering. Termasuk sumur di pondokan sub unit satu dan tiga. Di sub unit Beji juga lah beberapa kawan sering menumpang makan. Makanan di sub unit kami memang cukup melimpah, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi di sub satu. Saya akan cerita lebih banyak lagi tentang sub unit ini di posting selanjutnya.
Sub Gunungan
Sub unit tiga. Tidak jauh berbeda dengan sub unit satu. Ada cerita cinta yang mewarnai perjalanan KKN. Yang sempat terpublikasi sih cerita antara pasien diet dan penasihat gizi, yaitu antara Teh Rindi dan Aa’ Lido. Pondokan mereka terbilang sederhana. Yang membuat istimewa adalah mereka tinggal dirumah Pak Dukuh, kepala dusun, setempat. Jadi, mereka cukup terbantu dalam menjalankan KKN dan berkomunikasi dengan warga. Mereka juga memiliki halaman rumput yang tidak dimiliki dua pondokan sub unit lainnya. Halaman rumput yang teduh ini sering mereka gunakan untuk bersantai menikmati sore dan melihat bintang ketika malam. Atau terkadang mereka juga bermain uno di halaman pondokan mereka. Anak-anak sub Gunungan ini sangat religius –menurut saya. Mereka patut jadi contoh kawan-kawan sub unit lainnya untuk urusan keagamaan.
*) Bahasa Jawa. Artinya: nggak tau-nya Beji.
