Tengah Malam Menunggu Pagi
Jarum jam menunjukkan pukul 23:41. Dendang lagu-lagu Adhitia Sofyan siap mengantar tidur. Lamunan terbuyarkan. Mata enggan terpejam. Penanggalan dengan coretan aksara menggunakan berwarna-warni tinta menghantui tidur yang ternyata hanya sekadar wacana. Ponsel digenggam dengan kesadaran penuh. Saya bicara dan melontarkan banyak pertanyaan. Sesorang di ujung telepon mencoba untuk menentramkan. Saya menyimpulkan, ia tidak begitu tertarik bicara tentang hal yang lebih serius. Menurutnya, saya hanya akan tertarik bicara Chekov dan resep-resep kue.
Can’t go to sleep, that special someone annoys you in your thoughts, and it makes you exhausted
….
But midnight close my eyes I’m tired I’m fading.. I am only human, Searching places I wont go where your name are written..We’re all only human..
MIDNIGHT -judul lagu dari potongan lirik di atas. Lagu manis ini masih terputar. Adhitia Sofyan masih bernyanyi. Ya, dan ini sudah lewat tengah malam. Telepon sudah ditutup sejak dua jam lalu. Siaran radio hanya meninggalkan bunyi kemerosok. Hari sudah berganti. Namun kantuk belum juga singgah. Dia terus mampir.
