the clock is ticking

Life ends when you stop sharing..

Belajar di Luar, Lupakan Seragam (Part I)

laisser un commentaire »

Saya tidak akan mendebat soal matakuliah 3 sks yang harus saya laksanakan di luar ruang akademis di lingkungan kampus (seperti biasanya). Perkara transparansi uang hingga nilai, mungkin akan dibahas di ruang lainnya yang lebih layak. Konsekuensi logis mengambil matakuliah wajib ini adalah belajar di luar. Berbekal hanya ilmu serta skill lain di luar ranah keilmuan kaku di ruang kelas.

Belajar di luar artinya, belajar dengan masyarakat. Demikian saya menyebut nama matakuliah ini. Saya tidak suka dengan nama yang diberikan kampus untuk matakuliah yang (sebenarnya) mengemban tugas mulia. Di kesempatan itu, saya akhirnya bersentuhan langsung dengan masyarakat yang sebenarnya. Masyarakat yang sederhana. Siklus hidup harian yang singkat. Hangat. Tidak kaku. Kental dengan nuansa kekeluargaan.

Selama 52 hari, saya punya rutinitas baru: mengajar. Hingga di umur 21 tahun ini, saya baru berani berdiri di depan kelas dan mencoba berbagi ilmu dan cerita seru. Terlebih melakukan hal itu dengan anak-anak dengan rata-rata berumur 11 tahun. Saya tidak begitu suka anak kecil (tadinya). Mungkin karena saya anak terakhir dari 3 bersaudara, saya bingung bagaimana berinteraksi dengan anak kecil. Tapi semua berjalan begitu saja. Mengalir.

Ini beberapa anak yang sangat saya kagumi.

Sugiyanto (Sugi). Umur 11 tahun. Kelas 4 SD. Penyuka kartun Naruto ini suka sekali menggambar. Kalau dilihat dari apa yang terlihat di luar, dia bisa dikategorikan anak nakal. Suka memulai pertengkaran. Don’t judge a book by its cover.  Saya terlalu dini melabeli Sugi.  Dia nakal dalam kadar yang wajar untuk umurnya. Sulung dari 3 bersaudara ini ternyata sangat penyayang. Selain bertemu di kelas Bahasa Indonesia, saya juga bertemu Sugi di Masjid Nurul Iman di sore hari.

Pernah suatu waktu ketika saya sakit di pondokan, Sugi menyempatkan diri untuk mampir dan memberi seekor ikan dalam plastik kedap udara. Saya mencoba memeliharanya. Saya bingung memberi makan apa untuk ikan kecil itu. Sesekali saya beri nasi. Tapi sepertinya ikan tidak makan nasi. Beberapa hari kemudian, ikan itu mati. Kelaparan. Mengenaskan.

Sebelum pulang dan pamitan, Sugi menitipkan ikan baru dalam sebuah botol. Lengkap dengan sebungkus kecil pakan ikan. Saya beri nama: Santoso. Sampai hari ini, ikan itu masih hidup. Di botol sempit. Mungkin sudah waktunya untuk memindah tempat hidup Santoso.

Tami The Jelly Girl. Perempuan mungil ini pendiam dan pemalu. Ia adalah adik dari Sugi. Saya bertemu untuk pertama kali dengan Tami, ketika kelas mengaji di Masjid. Ia selalu duduk di pojok. Diam dan tidak berbuat apa-apa. Ketika saya dekati, Tami pasti senyum dan tertunduk malu-malu. Nampaknya dia tidak begitu percaya diri untuk berkawan di sana

Tami pasti malu-malu jika digoda sedikit saja. Ia selalu tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik jilbab kecil yang dikenakannya. Atau terkadang, ia bersembunyi di balik pintu.

The Silly Girl. Saya menyebutnya silly, bukan berarti dia bodoh. Dia ini adiknya Ivan, anak paling nakal sekampung. Saya lupa nama anak kecil ini siapa. Tapi tingkahnya sangat lucu dan konyol. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan anak ini. Tapi dia sedikit kesulitan bicara.

Saya sering mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris. Silly selalu tersenyum dan mengangguk, seperti mengerti maksud saya. Silly memiliki hobi yang tidak terelakkan lagi: MAKAN.

Kinan. Ia adalah cucu kandung Ketua RT setempat. Ia diasuh oleh kedua kakek-neneknya. Kinan jarang datang mengaji. Tapi, ia sangat ramah dengan saya dan kawan-kawan yang lainnya. Tidak sulit untuk bertemu Kinan. Ia sering bermain keluar rumah.

Di kampung itu tidak hanya kinan yang diasuh oleh mbah-nya. Banyak anak-anak lainnya yang tidak merasakan kehangatan orangtua setiap hari.

Rédigé par Lia Padma

octobre 14, 2011 à 10:41

Publié dans Uncategorized

Répondre

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Twitter picture

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

Suivre

Get every new post delivered to your Inbox.